Selamat Tinggal TDS Meter, Saatnya Pakai EC Meter Untuk Hidroponik

Fungsi EC meter dan TDS meter dalam Hidroponik

Beberapa alat yang harus dimiliki dalam bertanam hidroponik adalah pH meter dan TDS meter. “Sudah punya belum?”

Kalau saya dua – duanya sudah punya. Tapi, TDS meter sudah jarang saya pakai. Sekarang lebih condong pakai ke EC meter.

Selain kedua alat tersebut, saya juga ada pH meter. Ia saya gunakan untuk mengukur nilai keasaman larutan nutrisi hidroponik saya. Karena saat ini sedang menanam sayuran daun, pH saya set antara 5,5 – 6,5.

Kepekatan nutrisi, saya ukur dengan EC meter atau Electro Conductivity Meter. Untuk sayuran daun, saya set nilai EC di angka 2,5 miliSiemen/cm (mS/cm) atau 2500 mikroSiemen/cm (µS/cm).

Banyak juga yang menggunakan TDS meter untuk mengukur kepekatan nutrisi. Kepekatan diberikan dalam satuan ppm (part per millions).

Nilainya mungkin sekitar 1100 ppm untuk nilai EC sebesar 2,5 mS/cm.

Saya kurang tahu pasti karena saya jarang pakai TDS meter ini.

Terakhir saya pakai TDS meter, dua alat yang saya punyai menunjukkan nilai yang berbeda untuk larutan nutrisi yang sama.

Ada perbedaan hasil pembacaan. Kebetulan EC meter saya bisa ubah ke EC meter dan TDS meter.

Pembacaan TDS meternya saya bandingkan dengan alat TDS meter saya yang khusus buat ngukur TDS saja.

Hasilnya, ternyata berbeda? Kenapa?

Kemudian, saya putuskan untuk percaya pada nilai EC meter saja sampai sekarang.

Cara membaca dan menggunakan EC dan TDS meter

Ini adalah langkah yang sangat sederhana. Ikuti langkah – langkah berikut ini, dan setelah itu semua pasti bisa menggunakan EC meter maupun TDS meter.

1 . Nyalakan EC atau TDS meter. Langkah ini bisa dilakukan dengan menekan tombol ON/OFF atau saklar ON/OFF. Tergantung desain dari EC dan TDS meter yang dimiliki.

2 . Masukkan ujung EC dan TDS meter ke larutan nutrisi. Tidak perlu dalam – dalam, cukup sampai elektrodanya sampai tercelup ke dalam air nutrisi.

Biasanya ada garis pembatasnya.

3 . Diamkan dan tunggulah beberapa saat, sampai LCDnya menunjukkan angka yang cukup stabil. Biasanya sekitar 15 an detik.

EC meter biasanya diberikan dalam satuan mikro Siemen/cm (µS/cm). Kalau kepekatan yang diinginkan dalam satuan miliSiemen/cm (mS/cm), maka di EC meter nilainya sebesar 2500 µS/cm.

4 . Kalau takut lupa nilai angkanya, silahkan tekan hold. Maka, setelah EC dan TDS meter kita angkat, nilainya tetap menunjukkan di angka terakhir saat kita pencet hold.

5 . Setelah merasa selesai dengan alat ukur tersebut, silahkan matikan alatnya. Simpan baik – baik, biar awet.

Lebih baik mana, TDS atau EC meter?

Kalau menurut saya sih, sama – sama baiknya. Baik EC meter atau TDS meter tidak menentukan secara langsung berhasil atau tidaknya dalam berhidroponik.

Tapi, nilai TDS suatu larutan nutrisi itu diperoleh dari nilai EC meter. Maksudnya adalah, angka TDS yang kita lihat itu sebenarnya nilai EC tapi dikalikan dengan angka tertentu.

Angka tersebut disebut sebagai angka konversi, koreksi atau apalah. Faktor koreksi ini, menurut sebuah sumber[1], nilainya berbeda – beda untuk setiap produsen.

Kalau nilainya berbeda, berarti pengukuran TDS kepekatan larutan nutrisi belum ada standarisasi.

Contoh misalnya, pada suatu kesempatan saya mengukur larutan nutrisi dari hidroponik saya.

Satu saya pakai EC meter yang bisa di swicth ke TDS meter juga. Satunya pakai khusus TDS meter saja.

Ternyata, nilai ppm larutan nutrisi saya sangat berbeda. Ini ada dokumentasinya.

TDS 3 nilai ppmnya 651 ppm sedangkan nilai ppm di TDS&EC meter, nilainya 1200 ppm. 1200 ppm ini setara dengan 2,4 – 2,5 mS/cm.

Ini yang menjadi dugaan saya, ketika belum ada EC meter, ujung daun tanaman mengering setelah dipindah tanam.

Waktu itu saya set, ppm larutan nutrisi ke angka 1100 – 1200 ppm. Itu angka yang terbaca di TDS-3.

Berarti, nilai sebenarnya adalah berkisar antara 2027 – 2211 ppm. Kalau nilai EC nya mungkin sekitar antara 4 – 5 mS/cm.

Sayuran daun mana yang nggak klepek – klepek coba.

Setelah itu, saya coba dari sekarang untuk lebih terbiasa dengan EC meter.

Tapi banyak yang berhasil pakai tabel ppm?

Kepekatan larutan nutrisi hidroponik ada batas maksimalnya. Untuk sayuran daun, seperti bayam, nilai EC maksimal adalah 3 mS/cm.

Kalau lebih dari itu, peluang besar tanaman akan keracunan. Nilai optimalnya diambil 2,5 mS/cm.

Kalau dibuat dalam ppm, ya sama juga. Ada range aman konsentrasi larutan nutrisi yang bisa diberikan ke tanaman.

Tabel ppm ini bisa di lihat di hidroponikpedia.com. Tabelnya cukup lengkap. Ini linknya.

Tabel ppm dan ph untuk tanaman hidroponik.

Sebenarnya, kalau faktor konversi dari pabrik TDS ini tidak terlalu besar, maka perbedaan ini tidaklah membahayakan.

Nilainya masih akan tetap di batas aman untuk tanaman.

Untuk kasus saya di atas, kesalahan bukan pada alat ukurnya. Alat ukurnya baik – baik saja.

Hanya saja, alat tersebut sudah lama saya miliki dan vakum aktivitasnya cukup lama. Jadi, alat tersebut perlu untuk dikalibrasi.

Sampai sejauh ini seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Asalkan TDS meter terkalibrasi, saya rasa tidak masalah untuk dipakai.

Pengaruh EC pada larutan nutrisi hidroponik

Setiap tanaman membutuhkan nilai EC yang berbeda – beda. Bayam, selada, pakchoy, dan jenis tanaman lain membutuhkan kadar atau nilai EC yang tidak sama.

Maksudnya kenapa harus nilai EC tertentu adalah untuk performa dan pertumbuhan terbaiknya.

Pemberian nilai EC yang tepat, akan berpengaruh pada tinggi tanaman, jumlah daun dan besar daun dan berat tanaman yang lebih maksimal.

Untuk tujuan industri, sebaiknya nilai tersebut haruslah diperhatikan. Sedangkan untuk hobbies saja, bisa main di nilai EC yang aman. Sayuran daun, asalkan nilai EC tidak melebihi 3 mS/cm, amanlah masih[1].

Sayangnya, informasi mengenai jumlah EC dan ppm larutan nutrisi hidroponik yang tepat belumlah banyak ditemui.

Banyaknya faktor yang menunjang keberhasilan hidroponik tidaklah hanya nilai EC semata. Misalnya , lingkungan.

Mengkondisikan lingkungan supaya mendukung pertumbuhan yang optimal, ini saja sudah buanyak sekali aspeknya.

Sinar matahari, cuaca, suhu greenhouse, suhu larutan nutrisi, sistem hidroponik, sistem irigasi, fertigasi dan seterusnya.

Mengukur nilai EC di suhu yang lebih tinggi, nilainya akan berbeda dengan pengukuran di suhu yang lebih dingin.

Hal ini menurut saya, pada suhu tinggi, ion – ion memiliki energi kinetik yang lebih tinggi. Sehingga, pergerakannya lebih cepat.

Akibatnya, hasil pengukuran akan menunjukkan nilai EC yang lebih tinggi. Padahal, nilai ppmnya sama.

Nilai EC untuk selada

Menurut sebuah penelitian, nilai EC optimal pada selada adalah sebagai berikut.

Pada umur 0 – 10 hst, selada diberi EC 1,2 mS/cm. 2,1 mS/cm pada 10 – 15 hst, dan 1,8 mS/cm pada 15 hst sampai usia panen (35 hari)[2].

Sejak 15 hst, pertumbuhan tinggi selada yang diberi EC 1,8 mS/cm ternyata lebih tinggi daripada selada yang diberi EC 2,1 mS/cm.

Begitu juga dengan jumlah daunnya. Jumlah daun selada terbanyak saat panen juga diperoleh oleh selada dengan EC 1,8 mS/cm.

Ternyata, memberikan nitrogen dalam jumlah banyak saat tanaman mendekati panen dapat merontokkan daun yang sudah tua.

Logikanya, kalau EC nya tinggi, berarti konsentrasi nutrisinya juga tinggi. Dalam konsentrasi nutrisi yang tinggi, pasti jumlah nitrogen dalam nutrisi juga lebih banyak.

Nilai EC untuk bayam

Kalau pada bayam, nilai EC optimalnya berbeda dengan selada. Kalau selada, nilai EC optimal di angka 1,8 mS/cm, bayam ternyata lebih tinggi nilainya[3].

Pada usia 3 minggu setelah tanam, bayang yang diberi EC 2,4 mS/cm, 2,7 mS/cm dan 3 mS/cm tingginya masing – masing adalah 22,78 cm, 27,00 cm dan 28,38.

Singkatnya, hasil risetnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Nilai EC untuk Sawi

Mungkin ada bilang, “punya saya, saya kasih EC rendah pertumbuhannya tetap bagus. Kenapa harus di tambahin lagi EC nya, kalau segini saja sudah bagus”.

Memberikan EC yang optimal, tidak hanya untuk tujuan meningkatkan kuantitas produksi tanaman hidroponik. Melainkan juga pada kualitasnya.

Tinggi tanaman dan jumlah daun mungki bis sama antara sawi dengan EC rendah dan EC yang tinggi.

Tapi kualitasnya tentu sangat berbeda. Seperti pada hasil penelitian[4] di bawah ini.

Tinggi tanaman sawi hidroponik yang diberi nilai EC berbeda, nilainya hampir sama.

Tidak hanya tingginya, ternyata jumlah daunnya sampai hari panen juga tidak jauh berbeda.

Begitu pula dengan luas daunnya. Nilainya bisa dilihat di tabel di bawah ini.

api yang membuat semua itu berbeda adalah nilai bobot basah dari sawi tersebut. Nilai EC 2,5 mS/cm memberikan bobot basah yang paling tinggi.

Perbedaannya cukup signifikan. Bisa di lihat di tabel di bawah ini.

Kesimpulan

Menurut saya, nilai EC dari suatu larutan nutrisi lebih merepresentasikan nilai yang seharusnya untuk nutrisi hidroponik.

Meskipun pakai tabel ppm juga sangat bisa sekali.

Bagaimana kalau Anda sendiri. Silahkan tulis komentar YES kalau Anda lebih suka pakai EC. Dan tulis NO di komentar kalau Anda lebih suka pakai tabel ppm.

Thank you.

Referensi

[1] Sutiyoso, Yos. 2018. 100 Kiat Sukses Hidroponik. PT Trubus Swadaya, Depok.

[2] Binaraesa, Ni Nyoman Padang Cakra, Sandra Malin Sutan dan Ary Mustofa Ahmad. Nilai EC (Electro Conductivity) Berdasarkan Umur Tanaman Selada Daun Hijau (Lactuca sativa L.) Dengan Sistem Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique). Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol. 4 No. 1, Februari 2016, 65-74.

[3] Subandi, M., Nella Purnama Salam dan Budy Frasetya. 2015. Pengaruh Berbagai Nilai EC (Electrical Conductivity) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bayam (Amaranthus Sp.) Pada Hidroponik Sistem Rakit Apung (Floating Hydroponics System). Jurusan Agroteknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[4] Pratiwi, M. Subandi, dan Eri Mustari. Pengaruh Tingkat EC (Electrical Conductivity) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Saw (Brassica juncea L.) pada Sistem Instalasi Aeroponik Vertikal. Jurusan Agroteknologi Fakultas Sains dan Teknologi. Jurnal Agro Vol. II, No. 1, Juli 2015

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *