Hidroponik Rakit Apung, Baca Ini Sebelum Ambil Keputusan Membuatnya!

Hidroponik rakit apung

Hidroponik rakit apung adalah menanam tanaman dengan cara hidroponik dengan membuat tanaman mengapung pada media nutrisi dengan penyangga styrofoam.

hidroponik rakit apung

Penyangga tanaman ini tidak harus dari bahan steroform. Prinsipnya adalah massa jenis dari penyagga harus lebih kecil dari massa jenis media nutrisi.

Sehingga, ia masih dapat mengapung meskipun ditambah dengan beban tanaman ketika sudah besar.

Jadi, papan dari jenis kayu yang ringan seperti balsa, sengon, jati belanda bisa dimanfaatkan. Tapi dari segi harga dan penghematan, silahkan cari bahan yang paling murah di sekitar kita.

Akar tanaman akan langsung menyentuh dan tenggelam pada media nutrisi. Dengan aerasi yang bagus dan merata, pertumbuhan tanaman akan sangat cepat dan bagus.

Asalkan sinar matahari cukup dan diatur intensitasnya pada saat siang hari.

Akar akan tumbuh memanjang dan berwarna putih bersih. Itu tandanya akar cukup akan oksigen.

Oksigen sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk membantu dalam penyerapan nutrisi. Jika akar berwarna coklat maka media nutrisi kekurangan oksigen terlarut dan pertumbuhan tanaman menjadi sedikit lebih lama.

Pada hidroponik sistem rakit apung, penyangga akan mengalami penuruan seiring dengan berkurangnya air nutrisi.

Penambahan perlu dilakukan secara berkala untuk menjaga volume air tetap pada jumlah yang optimal.

Rakit apung ini membutuhkan volume air nutrisi yang sangat besar. Inilah salah satu alasan yang membuat saya berfikir dua kali untuk mengganti sistem hidroponik NFT dengan rakit apung.

Kabar baiknya, dengan jumlah air yang sangat tinggi, kenaikan suhu nutrisi pada siang hari tidak terlalu tinggi.

Jika lokasi kita berada pada daerah yang sejuk, tanpa aerasi seharusnya rakit apung produksinya masih bisa bagus.

Nanti kita akan bahas lebih detail lagi mengenai ini.

Sekarang kita ke cara membuat hidroponik rakit apung ini.

Cara membuat bak hidroponik sistem rakit apung

Bak hidroponik rakit apung ini tidak boleh dibuat sembarangan. Konstruksinya harus kuat dan kokoh.

Karena konstruksi bak ini akan menyangga beban ratusan kilo.

Kalau tidak percaya, mari kita hitung saja.

Massa jenis air adalah sekitar 1000 kg/m3. Itu kalau air murni, kalau air plus nutrisi maka densitas atau massa jenis bisa sedikit lebih tinggi.

Satu meter kubik itu sama dengan 1000 liter air.

Jadi, massa jenis air bisa kita ubah nilainya dengan 1 kg/liter. Artinya, setiap satu liter air beratnya adalah sekitar 1 kg.

Kemudian kalau ukuran bak air rakit apung misalkan panjang 200 cm, lebar 100 meter dan tinggi atau kedalaman 20 cm, maka volume air adalah sebanyak

2 meter x 1 meter x 0,2 meter = 0,4 m3 = 400 liter.

Maka, berat yang harus disangga oleh bak hidroponik rakit apung adalah sekitar 400 kg.

Belum termasuk sterofoam dan beban tanaman ketika sudah besar.

Dengan berat sebanyak itu, masih ada keinginan untuk membuat hidroponik rakit apung bertingkat?

Makanya, bahan – bahan untuk membuat rakit apung harus yang besar dan cukup kuat. Minimal baja ringan kanal C.

Itu adalah pilihan yang paling murah dan cukup kuat. Kalau pakai kayu, harganya sekarang seperi emas, apalagi yang jenis kayu bangkirai.

1 . Baja ringan kanal C

Kanal C ini digunakan untuk membuat tiang, penahan samping bak, dan usuk bagian bawah bak.

Setidaknya kita membutuhkan 6 lonjor kanal c yang panjangnya masing – masing 6 meteran.

2 . Reng

Reng ini berfungsi untuk memperkuat penyangga pada bagian bawah bak.

Setelah usuk dari kanal C, diatasnya ditambah reng. Dengan lebar bak 1 meter butuh 8 lajur reng untuk mengisinya.

Reng ini bisa menggunakan besi galvalum ukuran 2 cm x 4 cm.

Galvalum 2 x 4 ini adalah pilihan yang paling murah dan cukup kuat.

Kalau pakai reng dari kayu, harganya mahal.

3 . Papan

Setelah kerangka utama jadi, kita perlu menambahkan papan supaya nantinya permukaan bak menjadi lebih rata.

Papan ini diletakkan di bagian dasar bak di atas reng dan semua bagian samping bak.

Kalau papan banyak pilihan yang bisa digunakan. Karena fungsinya bukan untuk kekuatan utama, melainkan hanya sebagai pengrata permukaan bak sebelum dilapisi terpal.

Papan ini bisa menggunakan triplek, papan kayu, papan cor, atau Grc. Whatever yang penting terjangkau dan mudah diperoleh.

4 . Terpal

Terpal ini sangat penting karena sebagai penahan air secara langsung.

Pemilihan bahan dan jenis penahan air ini juga perlu dipertimbangkan. Karena terpal ini harus bisa menahan panas dari luar supaya suhu air nutrisi tidak cepat menjadi hangat.

Untuk bak air rakit apung ukuran 2 x 1 meter, setidaknya kita membutuhkan terpal ukuran 3 meter x 2 meter.

Terpal bisa berbahan plastik, terpaulin atau plastik uv yang lebih tebal.

Plastik uv mungkin lebih murah tapi ia tembus cahaya. Mudah nanti bagi lumut dan fitoplankton untuk berkembang.

Maka pilihan yang lebih rasional adalah ke terpal plastik atau terpaulin.

Masalah warna kalau ada pilih warna yang paling cerah. Kalau ada yang warna silver karena kalau putih sepertinya tidak tersedia.

Warna cerah ini bisa sedikit membantu untuk mengurangi panas larutan nutrisi. Hanya sedikit.

5 . Pompa venturi

Hidroponik rakit apung generasi terbaru sekarang tidak memakai tandon dan hanya mensirkulasi air yang ada pada bak.

Sirkulasi air dengan pompa venturi akan lebih efektif karena selain mengalirkan air juga disertai aerasi pada larutan nutrisi.

Kalau rakit apung tanpa venturi, sebaiknya diberi beberapa titik aerasi. Titik ini harus bisa merata.

Tapi sepertinya membutuhkan banyak titik aerasi karena aerasi dengan batu aerasi hanya dominan mengumpul di atas batunya.

Sedangkan pompa venturi akan memutar dan menyebarkan air yang teraerasi ke seluruh bagian bak rakit apung.

Butuh 2 pompa venturi, minimal. Satu diletakkan di bagian ujung kanan dan dan satu di ujung kiri.

Dengan arah semburan air yang saling berhadapan.

Daya pompa venturi minimal antara 12 – 15 watt untuk masing – masing pompa.

6 . Styrofoam

Styrofoam memang pilihan yang paling efisien untuk penyangga tanaman hidroponik. Karena harganya murah dan sangat ringan.

Styrofoam inipun nanti ada berbagai macam pilihan. Entah dari ketebalan dan kerapatannya.

Kalau bisa, ambil styrofoam dengan kerapatan yang tinggi. Contoh styrofoam yang kerapatannya tinggi adalah styrofoam buah dan styrofoam yang dipakai buat ngganjal barang elektronik.

Sterofoam – styrofoam tersebut kerapatannya tinggi. Cukup rapat dan solid.

Kerapatanya jauh lebih tinggi daripada styrofoam lembaran yang dijual di toko fotocopy – fotocopy untuk keperluan tugas sekolah.

Dengan kerapatan yang lebih tinggi, sterofoam bisa menghambat sinar matahari masuk ke media nutrisi.

Sehingga, sterofoam tidak gampang berlumut.

Selain itu, suhu air nutrisi juga tidak menjadi cepat hangat.

Oleh karena itu, kalau mau nyari sterofoam buat hidroponik rakit apung cari yang kerapatannya tinggi.

Sterofoam ini nanti akan sering kita angkat – angkat. Karena tersusun rapat pada permukaan bak, ngangkatnya pasti dari bagian pinggir. Kalau sterofoam tidak kuat, nanti bisa patah. Apalagi kalau tanamannya sudah cukup besar.

Saya yakin tulisan tidak cukup hanya untuk menjelaskan cara untuk merakit bak rakit apung. Anda bisa melihatnya di youtube. Banyak sekali tutorial yang bisa kita lihat.

Salah satunya dari hidroponikpedia ini.

Nanti setelah ini Anda bisa pergi ke youtube dan mencari video yang lain jika masih kurang jelas.

Jujur saya tidak membuat instalasi rakit apung karena menurut saya sistem ini punya kelemahan. Dan, saya belum bisa mengatasi kelemahan ini. Nanti saya jelaskan.

Hidroponik rakit apung sederhana

Buat saja ukuran baknya menjadi kecil – kecil, maka akan menjadi hidroponik rakit apung sederhana.

Atau baki hidroponik yang biasanya buat starter kit hidroponik pemula. Tutupnya jangan pakai impra board tapi ganti dengan sterofoam.

Ukuran sterofoamnya di samakan dengan ukuran bakinya supaya bisa masuk dan rata dengan permukaan baki.

Kemudian lubangi sterofoam dengan diameter 2 cm x 2 cm. Potongan rockwoll harus sedikit lebih besar misalnya 2,5 cm x 2,5 cm.

Nanti saat pindah tanam tidak usah lagi pakai netpot. Rocwool langsung masuk dilubang tanam. Itu sudah kenceng dan rocwool tidak akan jatuh.

Pada prinsipnya semua sistem hidroponik itu sama saja. Yaitu akar tanaman menyentuh air supaya bisa mengambil unsur hara yang dibutuhkan.

Hidroponik sistem wick, tapi sumbu dibuang dan air ditinggikan sampai menyentuh akar tanaman juga sama dengan rakit apung.

Ini sudah saya lakukan pada hidroponik botol susu bekas. Hasilnya cukup bagus, akar bisa putih bersih pertanda oksigennya tercukupi.

kangkung hidroponik sederhana

kangkung hidroponik sederhana

kangkung hidroponik sederhana

Dengan pemberian aerator hasilnya pasti juga sama bagusnya. Aerator akan sama fungsinya seperti pompa venturi pada rakit apung yang besar.

Hidroponik sederhana yang terbuat dari sterofoam bekas buah – buahan juga bisa dibilang rakit apung sederhana.

Tinggal ditambah aerator saja. Kalau air berkurang ditambahi lagi sampai menyentuh akar. Begitu serusnya.

Intinya bukan pada sistem hidroponiknya. Jangan terlalu fokus pada jenis sistem tapi lebih fokus pada hal – hal yang bisa membuat tanaman tumbuh optimal.

Yaitu sinar matahari, pH larutan nutrisi, unsur hara yang tersedia dan suhu larutan nutrisi.

Sistem hidroponik apapaun kalau kita bisa mengoptimalkan faktor di atas, hasilnya pasti bagus.

Memang, salah satu sistem ada yang unggul di faktor – faktor di atas. Sedangkan yang lain tidak.

Bukan berarti rakit apung tidak mempunyai kelemahan. Selain keunggulan, ada bebera kelemahan yang menurut saya itu penting sekali.

Kelebihan dan kelemahan hidroponik rakit apung

Saya akan melihat ke beberapa poin. Poin – poin ini yang terkait dengan permasalahan hidroponik rakit apung.

Soal nanti poin tersebut menjadi keunggulan atau kelemahan, itu kembali ke kondisi kita masing – masing.

1 . Instalasi hidroponik rakit apung lebih murah

Menurut saya ini tidak benar sama sekali.

Konstruksi untuk bak rakit apung itu tidak main – main. Bahan harus kuat dan kokoh.

Dengan bahan – bahan tersebut pasti biaya juga tidak sedikit.

Contoh video di atas, dengan membuat instalasi rakit apung ukuran 1 x 2 meter untuk lebar dan panjang, biaya yang diperlukan sekitar 1,3 juta.

Itu jumlah biaya yang banyak untuk ukuran hidroponik seluas itu. Memang biaya masih bisa ditekan dengan memilih bahan – bahan yang murah atau ada gratisan.

Coba bandingkan dengan instalasi sistem NFT.

Ukuran 1 x 2 meter dengan titik lubang tanam yang sama, biayanya hampir sama. Dan itu sudah menggunakan gully trapesium sudah bisa.

Kalau gully diganti dengan pipa, biayanya malah bisa jauh lebih rendah.

Maksud saya, kalau dibilang instalasi rakit apung itu lebih murah, saya pribadi mengatakan itu tidak benar.

Saya memakai sistem NFT ukuran 1,5 m x 3 (dengan pipa) meter dan biayanya kurang dari 1,3 jutaan.

Itu dari segi biaya produksi awal. Belum penyusutan.

Saya kira pipa tipe D dan gully trapesium itu lebih tahan terhadap cuaca daripada sterofoam dan terpalnya.

Bahkan, gully trapesium yang bagus itu sudah dilapisi dengan anti uv juga.

2 . Suhu air nutrisi lebih dingin

Kalau ini saya setuju. Kelebihan utama pada rakit apung memeng suhu larutan nutrisi yang lebih dingin.

Tapi kalau jumlah airnya banyak. Jika rakit apung dibuat di baskom atau nampan ya sama saja. Kalau siang tetap panas, apalagi di dataran rendah.

Yang saya maksud adalah ketika bak rakit apung dibuat besar, minimal 1 meter x 2 meter. Dengan kedalaman sekitar 20 cm.

Air pada bak ini kan tertutup. Bagian bawah tertutup, samping tertutup dan atas tertutup langsung oleh sterofoam. Terlebih lagi kalau tanaman sudah cukup besar, daunnya bisa menambah naungan.

Maka, bisa dikatakan air nutrisi pada rakit apung sangat terisolasi dari radiasi panas lingkungan.

Dengan jumlah air yang sangat banyak, ratusan liter, suhu lingkungan hanya berpengaruh sedikit pada suhu air nutrisi.

Seenggaknya, air nutrisi tidak sepanas air nutrisi pada sistem NFT dan DFT atau Wick.

NFT dan DFT itu ibaratnya seperti ini. Keduanya kan airnya mengalir dan tersirkulasi.

Sirkulasi ini malah membuat seperti air radiator. Yaitu mengambil panas dari pipa. Seperti itu kira – kira.

Aliran nutrisi yang tersirkulasi lebih mirip seperti mendinginkan pipa yang kepanasan.

Tapi kalau NFT, ketika air mengalir tipis di sekitar perakaran oksigen terlarutnya lebih tinggi. Ini terbukti akar pada sistem NFT itu cukup putih bersih.

3 . Produksi rakit apung lebih tinggi.

Dengan suhu air nutrisi yang lebih dingin, dan ditambah aerasi maka kebutuhan tanaman sudah sangat terdukung sekali.

Pasti hasilnya lebih bagus jika dibandingkan dengan sistem hidroponik yang lain.

4 . Biaya produksi lebih murah

Sekarang kita bandingkan biaya produksi dari rakit apung dengan sistem lainnya. Misalnya NFT.

Biaya produksi ini meliputi biaya listrik biaya nutrisi AB mix. Kalau bibit dan media tanam semua sitem biayanya juga sama.

Masalah biaya produksi ini, saya sedikit ragu untuk membuat hidroponik rakit apung.

Persoalannya ada pada banyaknya jumlah air yang harus digunakan dalam bak rakit apung.

Untuk bak dengan ukuran 2 meter x 1 meter x 0,15 meter volume air nutrisinya adalah sebanyak 300 liter.

Sedangkan untuk sistem NFT, ukuran luasan modul seperti itu dengan tandon 100 liter saja sudah mengatasi.

Artinya, untuk mencapai kepekatan nutrisi yang sama, hidroponik rakit apung membutuhkan nutrisi AB mix 3 kali lebih banyak.

Secara sederhana kita bisa memakai AB mix komersil yang untuk 100 liter air nutrisi. Misalnya harga 15 ribu.

Maka, rakit apung membutuhkan 3 bungkus nutrisi AB mix dengan biaya 45 ribu.

Belum lagi dengan persoalan berkuarangnya air selama pemeliharaan.

Berkurangnnya air ini tidak bisa disepelekan. Ketika tanaman sudah besar, mereka akan menyedot air dalam jumlah yang cukup besar.

Contohnya adalah ini.

Ketika akar tanaman sudah sebanyak ini, air nutrisi yang saya pakai dalam 2 – 3 hari hampir habis.

Gamar gambar

Jumlah air nutrisi sekitar 1 liter karena saya menggunakan botol bekas susu UHT.

Itu baru kangkung yang daunnya ukurannya lebih kecil. Kalau sayur dengan daun yang lebih lebar, maka kebutuhan air akan menjadi lebih banyak.

Misalnya pakcoy, sawi, ta ke cai, dan jenis sayuran daun lainnya.

Ketika air berkurang lebih banyak, maka nutrisi yang ditambah lagi juga lebih banyak. Jika ingin membuat konsentrasi nutrisi sama seperti semula.

Itu untuk masalah nutrisi, belum kelistrikan.

Masalah kelistrikan diantara keduanya hampir setara. Meskipun NFT membutuhkan pompa yang lebih besar daripada rakit apung.

Rakit apung dengan luas 2 x 1 membutuhkan 2 pompa venturi dengan daya masing – masing 13 watt.

Sedangkan NFT pompa dengan tinggi 2 meter, 30 watt sudah bisa. Tapi lebih bagus kalau yang bisa 3 meter dengan daya 600 watt.

Misalnya semua pompa sama – sama nyala 24 jam selama sebulan 30 hari.

Lama waktu menyala 24 x 30 = 720 jam.

Kwh dari 2 pompa venturi

26 watt x 720 = 18720 Wh = 18,7 kWh

Untuk pompa 30 watt

30 x 720 = 21600 Wh = 21,6 KWh

Sedangkan pompa 60 watt

60 x 720 = 43200 Wh = 43,2 kWh.

Sekarang kita hitung misalnya biaya per kWh nya adalah 1500 rupiah. Maka biaya listrik selama 1 bulan untuk masing – masing adalah sebagai berikut:

2 pompa venturiRp. 28.050
Pompa 2 meter 30 wattRp. 32.400
Pompa 3 meter 60 wattRp. 64.800

Jika di total, biaya produksi rakit apung lebih tinggi meskipun kita pakai pompa 3 meter 60 watt.

Tapi, apakah jumlah produksinya bisa lebih banyak dari NFT? Minimal dua kali lebih banyak?

Belum tentu.

Hidroponik NFT produksinya juga sama bagusnya.

Itulah sedikit pendapat saya tentang hidroponik rakit apung. Boleh setuju boleh tidak.

Terimakasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

Salam hidroponik!

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. ahmdaden berkata:

    bang saya nyari styrofoam susah banget bang, kali aja ente ada channel, soalnya daerah saya susah nyari styrofoam, udh sempet beli online cuman ukuran ketebalanya tipis, kali aja ente ada channel gtu bng

  2. Sahaba Hydro Farm. berkata:

    Untuk menekan budget pembangunan instalasi RAKIT APUNG, yaitu dengan modul JONGKOK.

    untuk skala produksi saya berpihak sama RAKIT APUNG JONGKOK.

    selera kita beda, hobby tetap sama yaa pak.

    Hehehee

    Salam hidroponik, sukses dan jayalah selalu… Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *