Hanya 2, Media Tanam Hidroponik Yang Sangat Realistis

Harus adakah media tanam hidroponik?

Media tanam hidroponik adalah suatu bahan atau material yang digunakan untuk menyemai bibit tanaman. Selain itu ia juga membantu menyangga posisi tanaman saat dipindahkan ke modul pembesaran.

Media tanam ini 90% harus ada. Karena setahu saya, saat ini hanya kangkung yang bisa ditanam dengan cara hidroponik dan benar – benar tanpa media tanam.

Kalau ada tanaman lain yang bisa ditanam tanpa media tanam (bare root), silahkan dikoreksi saja. Tuliskan di kolom komentar, Ok. Saya akan sangat berterima kasih untuk hal tersebut.

Mulai dari penyemaian sampai pembesaran, kangkung hidroponik bisa tanpa menggunakan media tanam apapun. Dan sudah cukup banyak yang berhasil dengan metode ini.

Apakah ini bisa diterapkan untuk jenis tanaman lain? Misalnya bayam, pakchoy, sawi, kale dan lain – lain?

Cukup sulit.

Hal ini karena ukuran batang dan daun kangkung sangat mendukung untuk bisa ditanam tanpa media tanam.

Lima – sepuluh batang tanaman kangkung, sangat pas untuk ukuran netpot kebanyakan (5 cm). Daunnya yang kecil, bisa mengurangi persaingan untuk mendapatkan sinar matahari.

Ketika akarnya cukup berkembang, kangkung ini bisa terikat dengan cukup kuat pada netpot. Sehingga memberi keuntungan dalam menyangga batang kangkung itu sendiri.

Berbeda dengan bayam. Daun bayam bentuknya bulat dan lebar – lebar dan ukuran batangnya kecil serta akarnya lembut.

Lima batang bayam dalam netpot, kalau sudah besar, persaingan untuk mendapat sinar sudah sangat sengit sekali.

Apalagi kalau jumlahnya 10 batang per netpot. 10 batang bayam inipun, kalau sudah besar, masih terlalu longgar dan tidak begitu kuat dalam netpot.

Kecuali kalau mau menanamnya sampai 2 bulan.

Beda bayam, beda lagi dengan pakchoy. Pakchoy ini daunnya malah sangat besar dan lebar – lebar.

Nyaris tidak mungkin sekali kalau kita mau menanam 2 pakchoy dalam satu netpot.

Bahkan untuk jarak antar netpot  juga harus lebih lebar. Antar netpot satu dengan yang lain setidaknya butuh jarak 15 – 20 cm.

Jadi apakah mungkin menanam pakchoy tanpa media tanam?

Ok. Anggap saja media tanam hidroponik ini memang harus ada. Selanjutnya media tanam hidroponik yang jenis apa yang harus kita gunakan?

Menentukan media tanam untuk hidroponik

Media tanam yang terbaik adalah tanah. Tanah bisa memberikan lingkungan yang baik untuk sistem perakaran tanaman.

Tanah bisa menyimpan air dengan baik, bisa membuffer atau menyeimbangkan pH dan menjaga suhu perakaran lebih stabil.

Tapi apakah mungkin pakai tanah untuk media tanam hidroponik?

Secara teori mungkin saja.

Caranya pakai netpot dengan lubang bawah (tanpa lubang samping) atau netpot dari gelas plastik dengan dilubangi bawahnya kecil – kecil.

Bagian dasar netpot dilapisi dengan flanel atau rocwool berukuran tipis saja. Kemudian baru masukkan tanah di atasnya.

Penempatan untuk sistem DFT, ujung netpot harus menyentuh permukaan air. Supaya air bisa terserap oleh tanah sampai permukaan tanah.

Kalau NFT, ini tidak jadi masalah. Karena aliran air akan langsung bersentuhan dengan bagian bawah netpot.

Kelemahannya adalah saat perakaran mulai menembus bagian bawah, ini akan memperbesar kemungkinan tanah untuk ambrol dan hanyut bersama aliran air.

Hal ini karena partikel tanah ukurannya lebih halus dan bisa dengan mudah masuk ke lubang netpot yang kita buat.

Ini sangat merepotkan, karena tandon akan terisi oleh endapan tanah yang kita gunakan untuk media tanam.

Jadi, kesimpulannya tanah kurang efisien untuk digunakan.

Ada beberapa poin yang akan saya uraikan untuk menentukan media tanam hidroponik yang tepat untuk kita.

Pilih media tanam hidroponik yang efesien

Meskipun berkebun adalah hobi Anda, tapi kalau terlalu sibuk mengurusi media tanam juga sepertinya kurang menyenangkan.

Untuk itu, pilihlah media tanam yang simpel dan tidak ribet dalam menggunakannya.

Sebisa mungkin media tanam bisa langsung pakai. Tidak perlu banyak perlakuan dan treatment yang aneh – aneh.

Aplikasinya juga harus simpel. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman bisa mendapat perhatian lebih banyak.

Media tanam hidroponik murah

Selain efektif, media tanam juga harus murah. Kalau bisa gratis.

Saya pernah menghitung suatu media tanam yang kalau diitung – itung per netpot biayanya antara 200 – 300 rupiah.

Ini kalau satu pipa (4 meter) ada 20 lubang tanam, maka biaya media tanamnya saja sudah 4000 rupiah.

Kalau buat nanam bayam, menurut saya rugi. Kenapa? Karena 4000 itu sudah bisa dapet bayam 2 ikat di pasar. Kenapa harus repot – repot nanem?

Tidak hanya itu, murah tidak hanya berdasarkan harganya saja. Setidaknya media tanam bisa digunakan lebih dari sekali.

Pasti setelah dipakai, media tanam akan mengalami penyusutan. Tapi kalau penyusutannya hanya sedikit, itu masih baguslah.

Media tanam apa yang sesuai dengan 2 poin di atas?

Sejauh ini, dari pengalaman saya, hanya dua media tanam yang sangat mudah dipakai.

Pertama adalah arang sekam dan kedua adalah rockwool.

Arang sekam

Arang sekam adalah sekam padi yang dibakar.

Sebagian besar media ini diperoleh tidak dengan sengaja membakar sekam padi. Melainkan sudah hasil samping dari industri pembuatan batu bata.

Harganya sangat murah. Kalau lokasi Anda dekat dengan industri batu bata, Anda bisa memintanya secara gratis.

Kalau di perkotaan, kita bisa mendapatkan arang sekam ini di tempat penjualan bunga dan tanaman hias.

Tapi harganya sedikit lebih tinggi. Sekitar 5000 rupiah per bagnya. Bukan sak bulog ukuran 25 kg lho ya…

Keunggulan media tanam arang sekam

Kelebihan arang sekam kalau digunakan sebagai media tanam hidroponik adalah sebagai berikut.

1 . Harganya murah.

2 . Mudah diperoleh.

3. pH netral. Tingkat keasaman dari arang sekam ini adalah netral. Derajat pHnya antara 7 – 7,5. sedangkan porositasnya sekitar 77%.[1]

4 . Kemampuan menyimpan air cukup bagus.

Apa lagi? Silahkan tambahkan di komentar ya,jika masih ada yang kurang.

Rockwool

Media tanam yang paling banyak digunakan dan sangat populer di kalangan hobbies hidroponik adalah ini, rockwool.

Iya mungkin karena rockwool terlihat sangat bersih (kalau tidak lumutan).

Selain itu, ia juga sangat praktis. Harganya cukup terjangkau dan sangat mudah digunakan.

Satu slab rockwool harganya sekitar 55 – 60 ribu. Dan itu belum termasuk biaya kirim, kalau kita belinya online.

Meskipun terkesan mahal, sebenarnya tidak juga. Hal ini karena per slabnya, bisa kita gunakan menjadi sekitar 200 titik tanam. Tinggal dibagi saja berapa rupiah per titik tanamnya.

Kelebihan yang lain adalah rockwool mampu menyimpan air lebih banyak, teksturnya yang phorus menjadikanya bagus untuk aerasi dan pertumbuhan perakaran.

Akan tetapi dibalik itu, kelemahan dari media tanam ini adalah sifatnya yang cenderung alkaline atau basa.

Ini karena rockwool dibuat dari batuan mineral.

Sebenarnya saya tidak begitu perduli dengan hal tersebut. Saya menggunakan rockwool tanpa saya beri perlakuan apapun.

Jadi rockwool kering langsung saya potong – potong dan kemudian masukkan bibit. Sejauh ini, hal tersebut masih ok ok saja.

Tapi sebenarnya, pemakaian rockwool ini harus ditreatment dulu sebelum digunakan.

Untuk menstabilkan ph nya, rockwool dapat direndam di air bersih yang pHnya kita atur di angka 3 – 4 selama semalam.[2]

Setelah itu, kita angkat rockwool dan kita ukur pH air rendamannya. Kalau angkanya sudah diangka sekitar 5,5, rockwool sudah siap pakai.

Kalau masih diangka itu, ulangi lagi langkah di atas.

Cukup merepotkan bagi saya sendiri. Bagaimana kalau Anda? Apakah Anda melakukan treatment ini sebelum pakai rockwool?

Media tanam hidroponik lain

Saya tidak mengatakan kalau dua media tanam di atas adalah yang terbaik untuk hidroponik.

Masih ada media tanam lain, yang menurut penelitian, mampu memberikan hasil yang lebih tinggi.

Misalnya adalah cocopeat, pasir, hidroton, dan lain – lain.

Cocopeat terbuat dari serbuk sabut kelapa. Kalau hanya mengandalkan serbuk yang tercecer saat mengupas kelapa, berapa sih jumlahnya? Tidak banyak.

Kalau sengaja dengan menggiling sabut supaya jadi serbuk, tentu ada tambahan costnya.

Lagian pemanfaatan sabut kelapa rebutan dengan industri sapu dan kerajinan lainnya.

Media tanam pasir yang dikombinasikan dengan arang sekam, hasilnya sangat bagus.[1]

Tapi untuk menggunakan pasir, kita harus mengayaknya terlebih dahulu.

Ukuran partikelnya yang halus membuatnya kurang cocok apabila digunakan di hidroponik sistem DFT dan NFT. Jadi, pasir harus pakai netpot khusus.

Lagian, pasir itu berat. Seandainya tiap netpot beratnya 1 ons, tinggal hitung saja kalau netpot kita ada ratusan. Bisa puluhan kilo itu.

Arang sekam vs media tanam lain

Ada beberapa penelitian yang bisa kita lihat, tentang penggunaan media tanam arang sekam ini.

Rata – rata, pertumbuhan tanaman tidaklah mengecewakan.

Artinya, mengambil pilihan arang sekam untuk media tanam bukanlah keputusan yang salah.

Mari kita lihat satu per satu hasil dari penelitiannya.

Yang pertama adalah media arang sekam untuk tomat hidroponik.

Media tanamArang sekamArang serbuk Sabut Kelapa
Panjang akar utama (cm)22,41 15,23
Luas daun (cm2)876,92785,5
Tinggi tanaman (cm)65,6566,94
Diameter batang (cm)1,181,16
Bobot per buah (g)12,9612,08
Jumlah Buat/tanaman (g)34,335,3

 

Data di atas adalah hasil penelitian tanaman tomat yang ditanam dengan polibag.[1]

Memang tidak ada rocwool pada data di atas. Ya karena yang ditanam adalah tomat. Tidak mungkin kalau pakai rocwool.

Jadi biar tidak terkesan kalau arang sekam cocoknya untuk tanaman buah yang berbatang, kita akan lihat pemakaian arang sekam untuk sayuran daun.

Sebagai perbandingan, mari kita lihat hasil dari penelitian yang lain.

Media tanamArang sekamPasir
Jumlah daun (helai)10,3312,6
Luas daun (cm2)171,87254,03
Bobot segar/tanaman (g)38,8629,88
Indeks panen0,930,96

Data di atas adalah hasil penelitian dari tanaman pakcoi pada umur 35 hst.[3]

Akan tetapi sistem hidroponik yang digunakan menggunakan media polibag.

Untuk yang di modul pipa sistem DFT, tunggu saya punya riset sendiri.

Kesimpulan

Saya tetap lebih suka pakai arang sekam untuk media tanam hidroponik saya. Bagaimana dengan Anda? Silahkan tulis jawaban Anda di komentar ya ( kalau bersedia).

Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas komentarnya.

Mungkin ya, kalau tanaman hidroponik kita untuk dijual, proses panennya kalau pakai arang sekam akan merepotkan. Karena kita harus membersihkan arang sekam dari akar.

Tapi kalau untuk dikonsumsi sendiri, saya kira itu tidaklah jadi masalah. Karena kita tentu tidak makan akar bukan?

Saat ini, saya sedang melakukan riset antara media tanam rockwool dengan arang sekam. Nanti jika saatnya tiba, akan saya postingkan.

Ok, saya kira sampai di sini saja. Saya ucapkan terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Referensi

[1] Indrawati, Ratna, Didik Indradewa dan Sri Nuryani Hidayah Utami. 2012. Pengaruh Komposisi Media dan Kadar Nutrisi Hidroponik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Alumni Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

[2] https://www.fullbloomhydroponics.net/how-to-prepare-rockwool-cubes/

[3] Wahyuningsih, Anis, Sisca Fajriani dan Nurul Aini. Komposisi Nutrisi dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Sistem Hidroponik. Jurnal Produksi Tanaman Vol. 4 No. 8, Desember 2016: 595-601 ISSN: 2527-8452.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Ade Sumbang berkata:

    Arang sekam yg sdh terpakai (panen), apakah masih bisa digunakan utk media tanam berikutnya (barkali-kali)…?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *